Untuk anda, balasan surat
yang anda kirim pagi ini cukup membuat saya terkejut. Anda menulis bahwa anda
baru membacanya fajar ini setelah 730 hari surat itu dibuat dan dikirim. Serasa
tak percaya karena setelah 730 hari saya mengirim surat itu, anda baru mengirimkan
surat balasan atas apa yang saya tuangkan pada tulisan-tulisan tersebut. Seketika
ingatan kembali pada detik-detik 730 hari bahkan hari-hari sebelumnya. Anda mengucapkan
maaf yang seharusnya tidak pantas anda tuliskan untuk hal yang sudah begitu abu
bagi saya, anda mengirimkan saya pada pilihan yang sama pada sesutau yang anda tujukan kepada saya 730 hari yang lalu. Anda
tahu, sepertinya ada sesuatu yang ingin keluar dari mata saya ketika saya
membaca surat balasan dari anda. Pada kenyataannya sesuatu yang saya sebut air
mata itu tak kunjung keluar, apa mungkin karena terlalu lamanya air mata untuk
anda sudah berhenti keluar sejak 730 hari yang lalu. Apa saya masih pantas
untuk mengingat kisah 730 hari yang lalu? Apa saya masih pantas menuntut apa
yang sudah anda dan saya janjikan? Apa saya masih pantas menjawab apa yang anda
pertanyakan? Saya bilang semua itu kamuflase. Bagaimana bisa saya
menyeimbangkan sesuatu yang begitu sulit saya lakukan dalam waktu cepat? Apa
itu bisa disebut adil? Sedangkan diluar sana ada sesosok peran yang menunggu
dan berharap anda akan selalu pulang ke rumah dan menyunggingkan senyum
padanya. Tak perlu pusing, tak perlu khawatir, anda tulis pada surat balsan
itu, karena biarkan kekhawatiran dan kepusingan itu anda yang akan
menanggungnya. Tapi lihatlah, saya adalah sesosok wanita, sejak 20 tahun yang
lalu. Saya tidak ingin merasakan apa yang dia rasakan saat ini dan saya tidak
mau menjadi sosok yang klise bagi anda meskipun anda menulis memiliki waktu
banyak suatu saat ketika saya butuhkan. Saya mungkin bukan pembicara dan
penulis yang baik. Terlalu takut bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata yang
pada kemudian hari takdir akan mematahkannya. Mandiri akan lebih baik, meski
jauh sebenarnya saya ingin menulis “IYA” saja sebagai isi dari surat balasan
untuk anda. Tapi hingga saat ini, anda adalah anda yang saya panggil "Haruki" dan belum berubah hingga saat ini.
Diluar dari hal diatas, saya
bangga pada anda dan berterimakasih pada Tuhan karena telah menghadirkan sosok
anda hingga saat ini. Pandangan anda tentang kehidupan selalu bisa membuat saya
menjadi sederhana. Sederhana dalam menjalani
semuanya dengan cara yang sederhana dan menatap serta mencapai yang anda
sebut masa depan secara sederhana. Anda merupakan satu sosok lain yang cukup
berpengaruh dalam hidup saya yang telah Tuhan beri dalam perjalanan hidup saya.
Dalam pandangan ini, saya begitu menyayangi anda karena saya tahu Tuhan pun
begitu menyanyangi anda. Anda selalu bisa membuat saya ingin melakukan apa yang
orang lain tidak bisa lakukan. Mungkin ini sudah rencana Tuhan. Melalui anda,
Tuhan mengirimkan pesan-pesan penting untuk saya. Semoga Tuhan selalu merihoi
apa yang anda lakukan dalam kehidupan ini. AMIN
Entah kapan anda akan membaca
balasan surat dari saya ini. Saya pun tidak pernah memaksakannya. Biarkan surat
ini ada seperti apa adanya saja, seperti tiga surat yang saya kirimkan pada
anda 730 hari yang lalu. Terimakasih.


0 komentar:
Post a Comment