11.15.2012

Trs: Surat Untuk 'Anda'














Untuk anda, balasan surat yang anda kirim pagi ini cukup membuat saya terkejut. Anda menulis bahwa anda baru membacanya fajar ini setelah 730 hari surat itu dibuat dan dikirim. Serasa tak percaya karena setelah 730 hari saya mengirim surat itu, anda baru mengirimkan surat balasan atas apa yang saya tuangkan pada tulisan-tulisan tersebut. Seketika ingatan kembali pada detik-detik 730 hari bahkan hari-hari sebelumnya. Anda mengucapkan maaf yang seharusnya tidak pantas anda tuliskan untuk hal yang sudah begitu abu bagi saya, anda mengirimkan saya pada pilihan yang sama pada sesutau yang  anda tujukan kepada saya 730 hari yang lalu. Anda tahu, sepertinya ada sesuatu yang ingin keluar dari mata saya ketika saya membaca surat balasan dari anda. Pada kenyataannya sesuatu yang saya sebut air mata itu tak kunjung keluar, apa mungkin karena terlalu lamanya air mata untuk anda sudah berhenti keluar sejak 730 hari yang lalu. Apa saya masih pantas untuk mengingat kisah 730 hari yang lalu? Apa saya masih pantas menuntut apa yang sudah anda dan saya janjikan? Apa saya masih pantas menjawab apa yang anda pertanyakan? Saya bilang semua itu kamuflase. Bagaimana bisa saya menyeimbangkan sesuatu yang begitu sulit saya lakukan dalam waktu cepat? Apa itu bisa disebut adil? Sedangkan diluar sana ada sesosok peran yang menunggu dan berharap anda akan selalu pulang ke rumah dan menyunggingkan senyum padanya. Tak perlu pusing, tak perlu khawatir, anda tulis pada surat balsan itu, karena biarkan kekhawatiran dan kepusingan itu anda yang akan menanggungnya. Tapi lihatlah, saya adalah sesosok wanita, sejak 20 tahun yang lalu. Saya tidak ingin merasakan apa yang dia rasakan saat ini dan saya tidak mau menjadi sosok yang klise bagi anda meskipun anda menulis memiliki waktu banyak suatu saat ketika saya butuhkan. Saya mungkin bukan pembicara dan penulis yang baik. Terlalu takut bagi saya untuk mengeluarkan kata-kata yang pada kemudian hari takdir akan mematahkannya. Mandiri akan lebih baik, meski jauh sebenarnya saya ingin menulis “IYA” saja sebagai isi dari surat balasan untuk anda. Tapi hingga saat ini, anda adalah anda yang saya panggil "Haruki" dan belum berubah hingga saat ini.

Diluar dari hal diatas, saya bangga pada anda dan berterimakasih pada Tuhan karena telah menghadirkan sosok anda hingga saat ini. Pandangan anda tentang kehidupan selalu bisa membuat saya menjadi sederhana. Sederhana dalam menjalani  semuanya dengan cara yang sederhana dan menatap serta mencapai yang anda sebut masa depan secara sederhana. Anda merupakan satu sosok lain yang cukup berpengaruh dalam hidup saya yang telah Tuhan beri dalam perjalanan hidup saya. Dalam pandangan ini, saya begitu menyayangi anda karena saya tahu Tuhan pun begitu menyanyangi anda. Anda selalu bisa membuat saya ingin melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan. Mungkin ini sudah rencana Tuhan. Melalui anda, Tuhan mengirimkan pesan-pesan penting untuk saya. Semoga Tuhan selalu merihoi apa yang anda lakukan dalam kehidupan ini. AMIN

Entah kapan anda akan membaca balasan surat dari saya ini. Saya pun tidak pernah memaksakannya. Biarkan surat ini ada seperti apa adanya saja, seperti tiga surat yang saya kirimkan pada anda 730 hari yang lalu. Terimakasih.


Dari saya

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment