Satu malam, seorang lelaki menjemputku untuk pergi ke sebuah pesta. Lelaki yang selama ini aku sukai (baca: sangat sukai). Sekitar pukul 7 malam dia menjemputku di depan rumah. bagaimana rasanya? Sudah jangan dipertanyakan lagi, rasanya lebih parah dari rasa ingin pidato di depan gubernur. Satu jam sebelumnya aku sudah bersolek agar diriku menjadi lebih manis.
Malam itu menjadi malam yang sangat indah. Tidak pernah aku tahu bahwa pribadinya begitu sangat menyenangkan, lebih menyenangkan dari naik kora-kora 10 kali. Semua yang ia rasakan yang ia pikirkan, ia tumpahkan malam itu juga, sepulang dari pesta. Perjalanan pulang ke rumah menjadi seperti perjalanan wisata dan ada sepucuk surat merah jambu yang ia beri ketika aku masuk ke rumah. Senang? Bahagia? Kagum? Lewat! Semalaman aku tidak bisa tidur, seperti apa yang aku bayangkan terwujud dalam satu malam.
Esok hari, menjadi hari yang berbanding terbalik 360 derajat. Tidak ada kabar, tidak ada cerita lagi, tidak ada sepucuk surat lagi, tidak ada hal yang mendebarkan melebihi pidato di depan gubernur lagi, tidak ada hal yang menyenangkan melebihi naik kora-kora 10 kali, tidak ada tumpangan itu lagi.
Semuanya berakhir dalam satu malam saja. Tanpa pamit, tanpa permisi dan tanpa salam. Tanda tanya besar?! Tentu. Semua ini selalu akan ada berbagai rasa yang menyertainya. Aku tidak akan pernah menyalahkan siapa pun. Setidaknya terimakasih karena kau telah memberikan aku tumpangan pada malam itu.


0 komentar:
Post a Comment