Lagi-lagi aku terbangun dalam tidur lelap si malam kesekian. Lagi-lagi aku menemukan diriku masih berada di kursi penumpang yang sama, di gerbong yang sama, gerbong 4. Terdiam sejenak, mengingat beberapa ribuan detik lalu aku turun di stasiun 19 dan menyadarinya ketika aku melambaikan tangan pada pak masinis. Tapi, Vision ini apa? Ini bukan sekedar ilusi atau pandangan kabut semata. Tersadar dan tidak berada di alam bawah sadar bahwa ini benar-benar nyata itu lebih menyakitkan ketika minum secangkir kopi hitam pahit, lebih sakit daripada rambut dijambak ribuan kali. Ku tatap sekeliling, sepi, kosong, hanya ada beberapa penjaga berjaga di setiap pintu gerbong, di kanan dan kiri. Aku ingat, beberapa ribuan jam lalu, ada seorang lelaki duduk tepat di depan ku, dan posisinya tidak pernah berubah tapi sekarang, detik ini lelaki itu tidak ada. Kemudian, kereta menghentakkan remnya dan berhenti di stasiun 1. Tak ada hasrat ku untuk turun. Ku kibaskan pandangan keluar menembus kaca jendela. Ku lihat sosok lelaki yang aku kenali berjalan ke arah pintu keluar stasiun. Dia ternyata lelaki yang sama dengan lelaki yang duduk tepat di depan dan bersama ku beberapa jam yang lalu. Bersama seorang wanita cantik berrkerudung ungu, dia pergi menuju pintu keluar stasiun. Perawakan wanitu mungil, kecil namun nan rupawan dibalut kerudung itu. Genggaman tangan mereka hangat tapi sangat dingin dipandanganku. Langkah kaki mereka begitu dekat dan serasi tapi menusuk ulu hatiku. Tak mungkin aku turun dan pergi dari gerbong ini, sedangkan aku pun tak tau kemana aku akan pergi. Tak mungkin aku mengikuti lelaki itu, sungguh tak mungkin. Tapi aku juga tak mungkin terus menerus berada di Kereta Tidur ini. Dimana aku harus turun? Dimana aku harus benar-benar turun dan melambaikan tangan pada sang masinis? Disisi lain pun aku tak tahu kapan Kereta Tidur ini akan berlabuh di stasiun berikutnya. Kereta Tidur ini hanya meemiliki satu penumpang, dan itu adalah aku. Aku seakan menjadi penumpang yang kehilangan arah dan tujuan, padahal aku ingat aku menaiki ini, berbarengan dengan lelaki itu dengan tujuan yang sama. Siapa yang tahu dalam perjalan Kereta Tidur mengalami gangguan luar dan dalam? Yang jelas, saat ini aku harus tau aku akan turun dimana dan aku tidak ingin menjadi penumpang abadi Kereta Tidur, Gerbong 4.
12.03.2012
Subscribe to:
Comments (Atom)
