KEPERCAYAAN itu barang lama, sudah bukan hal yg asing, berlaku dimana saja, dikalangan mana pun, sudah terkenal di semua lapisan masyarakat, tua-muda, hitam-putih, semuanya tanpa terkecuali. Tanpanya semua hal yang kita lakukan dalam kehidupan tentu rumit, ribet, riwueh, hambar. Hal yang abstrak, tak bisa diraba, dilihat, didengar ataupun dicium TAPI hanya bisa dirasakan oleh hati dan pikiran dengan perbandingan 50:50- seimbang. Meskipun begitu, nilai yang ada didalamnya melebihi nilai 100.000 batang emas murni 24 karat, 5 ton karung mutiara ataupun 70.000 kodi berlian yang di-rupiah-kan. Terjalin antara satu pihak dengan pihak yang lain. Pihak yang disebutkan disini sapat berupa makhluk hidup dengan makhluk hidup, makhluk hidup dengan makhluk mati, makhluk hidup dengan makhluk abstrak. Untuk mereka (pihak ybs) mungkin akan merasakan bahwa hal ini sungguh sangat sangat teramat sekali berharga melebihi jiwa mereka. Hal ini dapat membawa pihak-pihak ini pada titik kebahagiaan, kekaguman, keceriaan bahkan kesedihan, kegeraman dan kekecewaan. Teringat satu cerita yang pernah tak sengaja dibaca beberapa waktu lalu. Begini ceritanya...
Sebuah kapal barang berlayar di Samudra Atlantik. Di buritan kapal ada seorang anak negro kecil, dia adalah seorang pekerja suruhan. Anak ini tidak hati – hati sehingga tercebur ke dalam Lautan Atlantik yang bergulung – gulung ombaknya. Anak ini berteriak minta tolong, apa daya ombaknya sangat besar dan angin sangat kencang, orang yang berada di atas kapal tidak ada yang mendengarnya. Dengan mata terbelalak dia melihat kapal barang tersebut membawa ombak bergerak makin lama makin menjauh.
Naluri bertahan hidup anak ini membuat dirinya berenang sekuat tenaga di dalam air yang sangat dingin. Dia mengerahkan segenap tenaganya untuk mengayuh kedua lengan kurusnya, berusaha keras agar kepalanya tetap berada di atas permukaan air, membuka matanya yang besar memandang ke arah kapal yang pergi semakin menjauh.
Kapal itu makin lama makin jauh, kapalnya makin lama makin kecil, akhirnya tidak terlihat lagi, sisanya sejauh mata memandang hanya lautan yang tak bertepi. Tenaga anak ini juga hampir habis, sesungguhnya ia sudah tidak mampu berenang lagi, dia merasakan dirinya serasa akan tenggelam. Lepaskanlah, hatinya berbisik pada dirinya sendiri. Saat itulah, di dalam benaknya terbayang akan wajah yang begitu welas asih dan pandangan mata yang ramah dari sang kapten kapal itu. "Tidak, kapten kapal setelah mengetahui saya tercebur ke laut, pasti akan kembali untuk menolong saya!" Berpikir demikian, anak ini berusaha dengan seluruh keberaniannya mengerahkan segenap tenaganya yang tersisa berenang lagi.
Akhirnya kapten kapal menyadari bahwa anak negro itu telah hilang, setelah dia memastikan bahwa anak itu tercebur ke laut, dia memerintahkan untuk berlayar kembali untuk mencarinya. Saat itu ada orang yang menasehatinya, "Sudah sekian lama berlalu. Kalaupun dia tidak mati tenggelam, pasti sudah dimakan oleh ikan hiu...". Kapten kapal agak ragu – ragu, namun akhirnya ia tetap memutuskan untuk kembali mencari anak itu. Ada orang yang berkata, "Pantaskah tindakan ini hanya demi seorang anak negro?" Sang kapten menghardiknya, "Tutup mulut!". Di saat – saat terakhir ketika anak kecil itu hampir tenggelam, sang kapten tiba tepat pada waktunya dan anak itu tertolong.
Ketika anak negro tersebut tersadar, dan saat dia bersujud untuk berterima kasih kepada sang kapten kapal atas budi baiknya menyelamatkan nyawanya, kapten itu memapah sang anak negro dan bertanya, "Bocah kecil, bagaimana kamu bisa bertahan begitu lama?"
Anak itu menjawab, "Saya tahu anda pasti akan kembali untuk menolong saya, saya tahu anda pasti akan datang!"
"Bagaimana kamu tahu saya pasti akan datang untuk menolongmu?", tanya kapten kapal lagi.
"Karena saya tahu anda adalah orang yang demikian!", jawab si anak.
Mendengar jawaban tersebut, kapten ini menjatuhkan diri di atas kedua lututnya bersujud di hadapan anak negro tersebut, air matanya berderai memenuhi wajahnya, "Bocah kecil, bukan saya yang menyelamatkanmu, sebaliknya, adalah kamu yang telah menolong saya! Saya sangat malu atas keragu – raguanku saat itu..."
Seseorang yang sangat dipercayai oleh orang lain juga merupakan semacam kebahagiaan. Pada saat orang lain mengalami putus harapan bisa terpikirkan olehnya akan dirimu dan yakin akan mendapatkan pertolongan darimu, merupakan kebahagiaan.

